Senin, 17 Desember 2012

Matahari

Matahari di garis Cakrawala itu sudah mulai tenggelam,
Ia tinggalkan jejak Jingganya yang sebaris,
Jingga yang akan dipeluk oleh Malam,
 

Meski sebentar,
Jingganya itu adalah tanda "penerimaan",
Penerimaan atas segala tiba,

"Perjalanan hidup, seperti roda" katanya
"ada di bawah, di atas, di bawah lagi, di atas lagi,
kadang pun harus terhenti, tidak bergerak!
Kita hanya perlu yakin pada diri kita sendiri"

Ia sudah ada di puncak tertingginya di Langit siang tadi,
dan Sore ini, ia ikhlas dan dengan senang hati akan terbenam,


Kembali memeluk Buminya,
Seperti pagi tadi, di Terbitnya,
Ia slalu rindu Buminya,

Hari ini,
Matahari kecil itu sudah menikmati perjalanannya dengan senang hati,

dari terbit hingga tenggelam,
dan dia tahu, sepanjang perjalanannya berotasi,
ada yang memaki,
ada pula yang menanti, yang berharap dia selalu benderang,

Dia, adalah Matahari..
Si Bola Pijar kecil itu, hanya berusaha menikmati hari-harinya,
Meniti mimpi-mimpinya,
Menyusun potongan-potongan hidupnya jadi satu mozaik yang utuh,
Meski ia harus menyusunnya dari serpihan-serpihan yang teramat kecil...

Sabtu, 15 Desember 2012

Keluarga Semesta, Bagian I

Haiiiii...
Selamat malam, seperti biasa memulai percakapan itu dan agar lebih romantis, aku akan memulai dengan bertanya kabar. 
"Apa kabar?, kau baik-baik saja?" atau seperti ini,
"bagaimana kabarmu, kau baik-baik saja?" atau..
"oeeeee...kau masih hidup sekarang?" hi hi hi...mana yang mau dipilih? 

Sebenarnya itu adalah "basa-basi", kalau boleh dikatakan sebagai "basa-basi" yang lazim untuk digunakan. Termasuk adegan wajib yang harus diucapkan untuk memulai percakapan ketika bertemu denga seseorang mau teman, pacar, orang yang dituakan, atau orang-orang yang sudah lama tidak dilihat atau kelamaan tidak dilihat batang hidungnya. Yang baru dikenal atau sebaliknya.

Contohnya seperti ini:
"Ehhh...kemane aje loe, batang idung elo gak pernah kelihatan apa kabar?"
Sesungguhnya aku menemukan sebuah keganjilan di sana..jadi lebih penting batang hidung ya, daripada keseluruhan orangnya. *sambil pegang idung yang lumayan tegak..hi hi hi..

Kenapa yok, harus batang hidung? ya, karena hidung adalah bagian yang paling mudah dilihat kali ya, paling menonjol dibandingkan yang lain, kecuali apabila, maaf sebelumnya bibirnya lebih mancung daripada hidung, terlalu sadis ketika harus mengatakan 'monyon", ehhh...kamu kalo ngambeknya kumat, kira-kira bibirnya bakalan lebih mancung daripada hidung gak? gak..gak..gak...(aku ngakak sambil guling-guling nich, aku kan tau kamu kalo lagi kurang sajen gimana...hi hi hi.)

Ran, kau baik-baik saja kan? lama tak bercerita. Belakangan ini aku kesulitan menemukan letakmu di Langit. Katakan sesuatu kalau ada apa-apa. Dengan senang hari aku akan membantu sebisaku. Bagi orang yang sudah memiliki satu ikatan, apapun itu bentuknya, kabar adalah sesuatu yang berharga sekali. Meski kau tak mengatakan apa-apa, asal kau beri aku senyummu yang paling manis saja, itu sudah sangat cukup buatku, Ran. Itu artinya selama kamu bisa tersenyum segetir apapun hidup yang membelenggumu, kau akan dan selalu baik-baik saja.
Dan aku, dengan setia menemani di Bumiku...

Ran, malam ini aku ingin bercerita tentang Satu Keluarga di Semesta. Kau mau dengar, barang kali tulisan-tulisan ini akan menemanimu. Kapan-kapan kau tinggalkan aku jejak ya, kalau kau pernah mengunjungi tulisan ini. Aku taruh instrumen di sini. Sape, alat musik tradisional Dayak yang sangat langka buat sekarang, Cuma punya empat senar, yang nendang ketika senarnya dibikin dari akan, atau kulit pepohonan. Teduh gak, Ran..selera musik kita kan bersebrangan. he he he..

ehemm..tes..tes..tes...cek..cek..cekk...oeee..aeee...aaa...iiii...uuu..eeee...ooooo.
ooooooo...eee...iiii///ee..^^%$$$$#@@@#######****** (aku kesedak, Ran..yaah malah ketawa. Itu bagian dari check vokal noch...)

Jadi, begini Ran..
Di Semesta yang senantiasa memeluk kita ini, Ada satu keluarga yang terdiri dari Matahari, Bintang, Hujan, juga Rembulan. Nama keluarga itu adalah "Keluarga Langit"..
Cerita ini akan sangattttttttttt puanjangggggg sekali, Ran. Kau tak bosan. Aku tauh prolog dulu ya, aku harus pulang ini, besok pagi musti bangung pagi, ada order nasi bungkus..he he he..

Nahh...Malam ini yang akan aku ceritakan adalah  Matahari....

ehhhh, tapi aku pergi dulu, ya...besok aku kembali lagi bersama Matahari...
see you

(15/12, 20.59)


Selasa, 11 Desember 2012

Gie, Lilin, Aku dan Kamu


Haiii...
Selamat Malam, Kau baik-baik saja?
Tadi aku buka file-file kumpulan puisi yang aku punya, dan aku buka file khusus puisi-puisinya Soe Hok Gie. Aku jadi ingat kamu Ran. Tuh, kan slalu ada aja sesuatu yang bikin aku inget kamu. Aku takut, Ran! Kalau suatu hari nanti kamu pergi aku bisa gak buat gak ingat ama kamu, buat ngapus semua tentang kamu. Kayaknya...he he he...

Kamu ngefans sekali sama Gie kan? Kamu pernah bilang di tahun 98 masa paling suram negara ini, kamu ada di jajaran terdepan para mahasiswa itu, katamu memperjuangkan "rakyat jelata" pasti aku adalah salah satu yang kamu dan teman-temanmu perjuangkan itu. Iya, kan? Makasih ya..

Tau gak, di tahun 98 itu aku masih bocah ingusan yang suka maen di tengah hujan. Aku gak peduli urusan negara saat itu. Masa bocah itu harus dinikmati kan? Aku suka maen klereng ama temen-temen ku yang kebanyakan cowo, slalu jadi anak bawang waktu maen lompat tali. Trus suka ngejar layangan, maen bola, suka manjat pohon, sering digigit tawon, paling sering sakit tapi berobatnya nyampe puskesmas doang kok, jadi gak da bagus-bagusnya deh buat ukuran anak cewe. Makanya ibuku khawatir aku tidak akan berbentuk seperti cewe, he he he...tapi sekarang manis kan? setelah melalui proses yang panjang.

Yang aku tau saat itu, ayahku bilang sudah agak kesulitan buat membelikan buku buatku, harganya berkali-kali lipat. Aku mengerti, Aku diam...
Ada beberapa puisinya yang aku punya, barangkali kamu mau baca lagi..

                             

                                  ......

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku.
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku.
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati
padaku.
tegakklah ke langit luas atau awan yang mendung.
kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah
kehilangan apa-apa.

Nasib terbaik tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda!
Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)




.......
Mandalawangi – Pangrango


Senja ini, ketika matahari turun
kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya
tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah”

dan antara ransel-ransel kosong
dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu,
melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup



Jakarta 19-7-1966




.....


Sebuah Tanya


akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
 tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam
 kulihat semuanya menjadi muram
 wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 1 April 1969





                              
.....
Tau gak Ran, kamu itu seperti lilin. Yang bikin terang gelap tapi kadang kamu harus ngorbanin diri kamu sendiri. Selama kita ikhlas itu gak masalah.

Kadan dalam keseharian hidup kitapun, kita sering jadi lilin kan? mungkin kita ini kelewat baik ya? he he he..
tapi ada kebahagian tersendiri ketika kita bisa berbuat sesuatu buat orang-orang di sekitar kita meski akhirnya kita membakar diri kita sendiri.

Selama kita meyakini jalan yang kita pilih, apapun yang terjadi kita tidak akan menyesal kan? Karena kita sudah berani memilih, kita harus menikmati semua konsekuensi yang akan kita terima, kita harus mengahadapi dengan gagah berani meski sebenarnya nyali kita ciut.

Jadi lilin itu bukan sesuatu yang menyenangkan, iya kan? tetapi ada yang rela memilih seperti itu, Ran. Seperti Makaham, ehh...kapan-kapan aku bikin sejarah sungai yang sudah membelah kota kecilku itu , ya! Bagi Mahakam mampu mengalirkan saja sudah cukup, dia tak sekalipun pamrih atas apa yang ia beri pada kami. Kalo gak ada Mahakam mati kali kami, Ran. Mo minum di mana yok? Mahakam pun tak pernah risau soal muara, Ran! Bagi Mahakam, sejatinya cinta itu adalah perbuatan, itu saja. titik udah gak pake koma lagi. Cinta itu adalah perbuatan....

Meski menjadi lilin, mungkin bukan pilihan yang menyenangkan, paling tidak menjadi lilin adalah pilihan yang hebat, berani, gagah, menerangi dan mencoba memberikan seberkas cahaya meski berupa noktah di gelapnya Malam, meskipun pada akhirnya cahaya itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Tapi bukankah karena dan untuk itu lilin ada dan dengan begitu lilin menjadi berarti. Awal tujuan dari dibuatnya lilin adalah untuk itu. Menerangi kegelapan.

wWalau ketika ida menjalankan fungsinya harus merelakan bagian tubuhnya yang perlahan terkikis dan hancur, tapi dia toh sedang menjalankan fungsinya, memberi terang dalam gelap. Entah yang diberi si lilin itu dianggap atau tidak. Tau sendiri kan, standar manusia hari ini apa? he he he..
Kenyataannya Si Lilin sudah berguna meski hilang setelahnya, tapi ada jejak terang yang sudah dia tinggalkan. Apa artinya bila si lilin hanya disimpan di lemari, bisa jadi tubuhnya juga akan hancur jadi sepihan-serpihan oleh waktu. Dan tidak berguna pada akhirnya. Mau hancur tapi berguna, atau diam tapi juga hancur. gitu kali, ya?
he he he...

Hari ini mungkin kita masih jadi "Lilin" yang dapat menyinari orang lain, tetapi kita juga mengorbankan diri sendiri.
atau mau seperti "Bulan" yang dapat menyinari orang lain karena pendaran cahaya Matahari,

Atau pada akhirnya kita bisa menjadi Matahari, yang menyinari orang lain dan juga menerangi diri sendiri, tanpa mengikis..

Silakan dipilih, Ran...

Apapun itu yang kamu pilih, tetap jadi diri kamu sendir, ya! kalau kamu "berubah" aku khawatir nanti aku tak bisa mengenali kamu lagi..




























Senin, 10 Desember 2012

Senyum, ya!...


Hai...

Apa kabar?

Waktu kamu bilang aku sudah beda barusan, atau kamu ngerasa aku sudah beda, sejujurnya itu nohok banget lho. Nyesek gitu jadinya..he he he...jadinya merembesss..ssss....ssssss...sssss...

Kamu tau gak, aku punya ikatan batin ama Hujan di Langit. Nah, kalo aku lagi sedih atau nangis tuh, atau perasaanku tak nyaman, Hujan langsung datang, dalam bentuk apapun, gak peduli di tengah terik sekalipun. Kali ini gerimis, ya, gerimis...
dan kamu tau kan, apa itu gerimis buat aku.

Aku paham kamu lagi "sensi', kan? karena kamu terlalu banyak beban yang menggantung di pundakmu itu. Jadi aku gak bakal marah padamu..he he he....sekejap aja itu nohoknya...

Orang seperti kamu itu jumlahnya gak banyak di muka Bumi ini. Kamu itu orang-orang khusus yang sudah dipilih Bumi dan di naungi Langit. Jadi kamu tak perlu khawatir ya, sesulit apapun beban yang menggantung di bahu kamu itu, Langit tak akan pernah tidur dan Langit gak akan biarin kamu sendirian, Langit gak akan biarin kamu terpuruk terus-terusan.

Kamu itu baik, mantan preman yang smart dan laki-laki sekali. Yang disebut laki-laki itu, adalah dia yang berani hidup susah tapi gak nyusahin. Itu kamu banget. yang selalu membantu orang lain, meski setelahnya kamu ditinggal pergi setelah mereka "sukses". yang begitu gak akan lama lho.  Dan sekali lagi kamu harus ingat Langit tak pernah tidur...he he he...
Kemarin kamu bilang idemu dicatut ama kawanmu ya? kamu bilang kamu akhirnya depresi, meski kamu bilang "sedikit depresi". Aku pernah rasain itu lho. Ketika kawan sendiri, yang sudah bertahun-tahun bareng aku, aku menggap mencatut satu ide yang sangat sensitif buat aku dan barangkali sekarang dia belum sadar ama apa yang sudah dilakukan. Yang baik buat kita belum tentu baik buat orang lain kan, juga sebaliknya apa kata mereka tidak sepenuhnya harus kita ikuti, kan? karena kita adalah tuan di dalam diri kita sendiri.
Aku paham rasa itu, sakit sekali. Ini soal kepercayaan kan? dan buat manusia khusus seperti kita ini sangat prinsipil. Sebenarnya buatku pribadi, itu gak masalah. Tapi alangkah lebih baiknya dia izin, iya kan? karena kita gak pernah sekalipun minta apapun dari dia. Ia kan?

Tetapi, setiap kepala lahir dengan pemahamannya sendiri. Sekarang dia sudah hebat dan aku belum apa-apa...he he he..
Tapi, aku masih belum berpikir buat lompat dari jembatan lho...he he he...
Kalau aku lakuin itu, aku sudah menghianati MATAHARI..
Dia tak perlu dikawal oleh siapapun ketika berotasi di Langit, tapi nyatanya dalam kesendiriannya itu dia mampu membuat banyak arti. Tak jarangkan kita caci dia ketika dia terlalu garang. Buatnya hidup bukan soal satu telinga, tetapi ada dua telinga...

Bahagia itu sederhana kan, ketika kita bisa turut berbahagia ketika orang-orang yang kita sayangi dapat merasakan bahagianya.

Aku mau bicara banyak sama kamu, tapi karena kamu lagi gak baik, nanti aja kita  ngobrolnya ya..
Kamu lagi marah ama aku kan? entar ajalah....he he he...

Oee...Senyum, ya!
maafin aku kalau disaat-saat seperti ini, ketika kamu benar-benar perlu. ternyata aku gak bisa wujudin keinginan kamu, aku gak apa yang harus dilakukan dan cara yang tepat buat nemani kamu.

Kamu itu istimewa, Langit gak akan biarin kamu jatuh terus-terusan..
he he he...




..............................................................................

28 Desember 2011
(....)
    • Gw heran deh!ko,lo mau2nya temenan ama gw,jadi binun,padahal lo kan oke bgt,gw suks bgt ama pic lo.nunjukin bgt lo tu avounturir
    • Gw heran deh!ko,lo mau2nya temenan ama gw,jadi binun,padahal lo kan oke bgt,gw suks bgt ama pic lo.nunjukin bgt lo tu avounturir
29 Desember 2011
(...)

    • Gak punya maksud apa2 sich, biar jumlah temen bertambah..
      He he he. .
      Pengen aja, gak ngerti jg knpa gw pngen temenan ma lo. . .ha ha ha. .
      Makasih ya..^^


      ......................


      3 Februari
      (...)
        • Gw gak tau, dan bingung apa yg bisa gw lakuin buat bantuin elu..he he he
          kayaknya masalah elu krusial banget..
          Bingung dah gw,
          gw siapa coba?
          He he he. .
          Lucu ya..

      3 Februari
      (...)
        • Lo ga perlu cape2 tempatkan diri lo di mana,yang jelas lo ada di hati ku...itu saja...ga perlu yg lain
        • Mustinya malam ini gw butuh sedikit belaian lo...much pelukan...much kisses,need u

      3 Februari
      (...)
        • Mau gw ceritain sesuatu gak?
          Knp gw suka banget ama Matahari. .
          Elu mau baca?

          Alkisah, di suatu kerajaan hiduplah seorang perempuan yg manis lagi cantik jelita, sebut saja namanya (sebut saja dia Bunga). .*nahh. .kan, gak nyambung. .wkwkwk. .

          Buat gw, ada nilai filosofis dari Matahari.
          Matahari itu gak kayak Bulan, bagi gw Bulan itu kelewat feminim, cause musti ditemani ribuan bintang, tp beda ama Matahari, di Langit dia justru sendirian ma terangnya..

          Matahari terbit dari timur bukan untuk tenggelam ke barat.
          Kalo Matahari itu diciptain cuma buat tenggelam, gak bakal mau kali Matahari.
          Sama halnya kita hidup, apa sesederhana menunggu mati? Yahh. .kita akan berusaha bikin banyak cerita yg bisa kita tinggalin buat orang-orang sekitar kita. Iya, kan?
          Ternyata, Matahari itu terbit bukan untuk tenggelam, tetapi Matahari terbit untuk menikmati perjalanannya terbit hingga tenggelam.
          Meskipun dia sendirian, nyatanya dia bisa bikin bnyak arti buat manusia-manusia di bumi, karena gak ada satupun dari kita yg bisa hidup tanpa Matahari. .

          Waktu gw ceritain ini di kelas, gw bisa bikin murid-murid gw diem, terperangah, dan mereka mulai belajar merenung hidup mereka mau diapain sekarang?

          Tapi, lo gw cerita ini ke elu, elu bakal ketawa dan bilang gw sok tau, gw ngerti apa. .
          Yapp. .elu benar gw sok tau,
          karena gw belum ngerasain ada di titik elu berdiri sekarang!
          Elu yg paling ngerti gmana caranya "nikmati" perjalanan hidup.
          Elu yg paling paham gmana caranya survive ditengah kesendirian elu, di saat elu jatuh tp mereka malah pergi,
          elu yg paling paham dripada gw. .

          Tau ahh. .gw ngomong apa sich, hapus aja postingannya ya. .he he he. . .
          Jadi aneh sendiri..gw gak tau knp harus ngomong ini, serius!
          Bingung gw. . .

      3 Februari
      (....)
        • Kisah cinta ku,lo berdiri pada titik yg mana,seperti halnya alam yg merepih,menanti fajar bersama angin malam,di biarkan basah,padahal menantikan belaian mu,tanganmu yg hangat,bukakan pintu mu,kan ku jelang pelita hati mu,makasih buanget miekyu matahari ku
          aku sakit bgt malam 

      3 Februari
                 (....)
                 
                  Itu yg bikin aku sedih..
                 Tau kamu lg sakit, tp aku gak bisa ngapa2in..




      .....................................





      Selalu ada alasan yang bikin kita buat berdiri lagi, kan?
      semangat, yuk!

Kamis, 06 Desember 2012

Hai, Tuhanku....


Hai, Tuhanku...
selamat Malam...

Tuhanku..
Kau lahirkan aku lewat rahim ibuku yang sederhana, 
dengan cara sederhana,
tapi tak main-main risikonya!

Aku berteriak membuat pernyataan
Sementara orang-orang disekelilingku
Menatap aku dengan senyum dan tawa 
Mereka menginginkan aku, ya?

Tuhanku...




Yang tak kumengerti 
Andaikan hidup ini betapa manis 
Kalau hanya sebatas bayi .....




Tuhanku Hidup ini berat, bila terjerat 
Aku ingin hidup ini polos, 
tulus tanpa penjelasan

Bisa tidak begitu Tuhan?...

Selasa, 27 November 2012

koma...


Ada kelopak elang yang muram sore tadi,
aku tergugu,
diam mematung,
tak bergeming oleh suara-suara
dan sekarang
Malam semakin memperasing aku,



aku punya dua pertanyaan buatmu, Ran..
Apa aku pantas dilahirkan?
Apa aku boleh hidup?

Aku harus berjalan sejauh apa, Ran?
Agar aku diakui sebagai manusia?

Ini aku, Ran..
Aku tak perlu mengemis pengakuan pada orang-orang!

agar diaku..
Aku tak perlu memohon pada orang-orang agar diingat slalu!
Aku tak perlu sedu-sedan, Ran!
aku tak perlu linangan air mata, bila itu semu!


sekali lagi aku katakan padamu!
aku tak perlu sedu-sedan....

Apa aku boleh terus hidup, Ran?

ketika aku sudah koma!

apa boleh kuteruskan hidup sampai titik, Ran?
ketika aku sudah koma!....









..............
di penghujung November masih di tahun yang sama!
aku rindu hujan...

tidak akan ada yang sia-sia kan?

Senin, 26 November 2012

Coretan 2

                        .........."malam berseri indah damai dalam hati".........


Selamat pagi, Raa..
Apa kabarmu pagi ini, semalam tidur nyenyak? Aku sudah berusaha menghubungi nomor hpmu semalam. Berulang kali, dan tak ada jawaban. Kau pasti sudah tertidur dengan damai kan? 

Sedari pukul 07.00 tadi aku sudah di kantor, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Kamis kemarin aku sudah ke Sekolah itu Raa. Aku bawa map coklat bertali itu. Di sekolah anak-anak pada heboh Raa. "Bundaaa...bundaa..bunda kemana aja sich, bunda tambah cantik, bunda selalu wangi, bunda makin imut deh"..
he he he...aku jadi tersungging gitu Raa. Ada yang datang langsung memeluk aku seperti biasanya, ada yang bilang begitu " woii...apa kabar bosku?" karena aku suka nyapa anak itu " haii, bosku (sambil gengang tangannya plus tos), makin ganteng saja kau"..sableng ya, Raa. Karena ku pikir, dengan begiitu selama tak berlebihan, aku bisa akrab sama mereka Raa..
                       ............"kau memberi rasa ini hingga dapat ku bermimpi".........
 
Kita tidak benar-benar tau Raa, anak-anak itu tulus atau tidak bicara seperti itu. Bisa saja mereka berbohon, PHP gitu. Tapi menurutku, jiwa anak-anak adalah jiwa yang paling bersih Raa, tidak seperti kita, bisa saja kita berbohong kan? hati kita terlalu luas Raa. Kita bisa membikin banyak ruang di sana, buat menempatkan apa dan siapa di sana. Bergantung kita mau memberi ruang seperti apa plus labelnya "ruang khusus", "ruang istimewa", "ruang terakhir", "ruang tanda tanya", juga label-label lainnya.

                     .............tentang maaf yang bersemi..........
                                          .....................tentang cinta yang tak letih......................

Raa, aku sudah kasihkan amplop coklat itu. Aku masih ingat ketika aku menulis lamaran pekerjaan temen-temenku pake tulisan tanganku. Mereka diterima semua Raa. Ada yang diterima di PNS, ada pula yang diterima di radio, juga di tempat-tempat yang lain. Tulisan tangan itu, kata temanku yang guru BK dapat menjelaskan karakter seseorang. Kata dia, tulisan tanganku bagus dan rapi. Terus dari huruf "d" yang aku tulis, dia bilang aku itu pribadi yang tegar dan rajin menabung...ho ho ho....
kita lihat ya, Raa. Apa aku akan beruntung seperti mereka. Karena semua sudah di atur sama Dia, meski aku lampirkan grade penilaian siswa dari tempat mengajarku sekarang jenjang SD "A+", SMP "A", dan SMA "A", belum tentu aku akan bergabung dengan sekolah mereka. Tidak menaruh harapan yang banyak, Raa! tapi aku akan berusaha...


                       ..................dan kuharap kau kekasih..........
                                                              ..............tak perlu bertengkar lagi.......
                                                    .................tak perlu menangis lagi..........


Raa, aku capee..aku lelah...he he he..
cape Raa, capeee sekali. Kamu gak akan marah kan, Raa? kalau aku bilang capeeeee...capeee.....capeee...he he he...

ehhh...Raa, barusan aku terima sms dari pihak sekolah seperti ini "Ass. Wr. Wb, Ini Mr. X dari sekolah X...Samarinda (nama penge-sms dan sekolah disamarkann agar tidak menimbulkan sesuati dikemudian hari, mengingat ini adalah dunia Maya..ho ho ho) Sy mengundang ibu datang ke seklolah hari senin..silakan dtg antara jam 8 sampai jam 11.00, terima kasih"...he he he lolos seleksi administrasi, Senin itu tes akademik, microteaching, juga interview, doain aku ya, Raa.

Tapi meski aku dapet sms itu, aku boleh bilang cape kan ama kamu, Raa? Aku mau bilang lelah Raa...
Boleh kan??
Makasih ya, Raa! kalau untuk kali ini kamu ngizinin aku buat bilang capee..


                                  ..............biarkan kita mengalir sampai nanti.................


......

Nb: tulisan ini terendap di draf Raa, Sabtu di 24 November 20012, kemarin mau diunggah tapi tak bisa.
he he he..warga pedalaman macam kami ini selalu bergantung pada kesungguhan para pemilik operator, jadi meski di pedalaman isi kepala harus tetas cyber tho
...gak gak gak
nanti aku bikin tulisan lagi ya...
Aku nyanyi buat kamu Raa, suaraku fals, ya? maaf ya...